Curug Ciarjuna, Pamulihan, Garut

Curug Ciarjuna - It's finally happened! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana senangnya hati Saya bisa pergi piknik ke Curug Ciarjuna. Yap! Sudah sejak lama Saya ingin sekali pergi mengunjungi curug ini, tapi ya....belum kesampaian juga hingga akhirnya, pada hari Sabtu, tanggal 28 Oktober 2017, Saya dan "anak buah" Saya, Rizal Arba pergi mengunjungi Curug Ciarjuna. Curug Ciarjuna sendiri terletak di Desa Panawa, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Curug Ciarjuna
Curug Ciarjuna
Waktu itu Saya dan anak buah Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 WIB. Waktu itu Kami berdua menggunakan sebuah sepedah motor dan langsung melaju sampai ke Kecamatan Cikajang. Disana Kami langsung berbelok ke arah kanan menuju ke Kecamatan Pamulihan. Bagi Kalian yang tidak tahu jalan menuju ke Curug Ciarjuna ini patokannya adalah Curug Orok. Btw, beberapa saat setelah Kami melewati Curug Orok, Kami berhenti di sebuah warung untuk bertanya kepada warga sekitar, dimanakah letaknya jalur Sumadra berada. Dan setelah bertanya, ternyata Saya berhenti tepat disamping jalur Sumadra itu sendiri (ada sebuah portal).

Oke, setelah Saya berbincang-bincang dengan warga sekitar, Saya putuskan untuk segera caw memasuki jalur Sumadra yang menurut banyak artikel yang Saya baca, jalur Sumadra ini disebut sebagai "Jalur Jahanam". Oke, setelah setengah jam Saya memasuki jalur jahanam ini, Saya belum merasakan aura jahanam dari jalur tersebut dan malah berfikir bahwa sebutan jalur jahanam ini hanyalah sebuah mitos semata. Tapi, beberapa waktu kemudian, Saya mulai merasakan kejahanaman jalur ini sampai beberapa kali anak buah Saya harus turun dari motor karena terjalnya jalan yang Kita lewati.

Selain itu, hati Saya juga mulai bertanya-tanya, "kok gak nyampe-nyampe ya?" "apakah Gue salah jalan?" "apakah Gue nyasar?" "apakah Desa Panawa itu cuma mitos?" dan lain-lain. Dan di dalam kebingungan tadi, hujan pun turun cukup lebat sehingga menambah penderitaan Saya saat itu. Alkisah, sampailah Saya disebuah peradaban yang awalnya Saya mengira bahwa peradaban tadi adalah Desa Panawa. Dan ternyata eh ternyata, peradaban tadi bukanlah Desa Panawa melainkan hanya sebuah kampung kecil yang ada patung Semarnya.

Kami pun terus melanjutkan perjalanan hingga bertemulah Saya dengan seseorang. Saat Saya bertanya kepada orang tadi, Dia mengatakan bahwa Desa Panawa sudah dekat. Setelah itu, Saya pun melanjutkan perjalanan dan akhirnya, Saya pun sampai di Desa Panawa (total waktu dua jam setengah, kenapa lama? karena turun hujan cukup lebat dan orang yang Saya bawa sux bgt). Alkisah, di Desa Panawa ini, Saya terus berjalan lurus hingga menemukan beberapa pos satpam, dan di pos yang terakhir, Kita diharuskan untuk memarkirkan motor dan mengisi buku daftar tamu.

Disana Kita tidak dipungut biaya apapan tapi ya ngertilah, disana kan banyak remaja yang menjaga pos. Ya kasihlah uang untuk Mereka. Setelah itu Kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni jalan yang lumayan curam dan berkelok-kelok sepanjang 2 Km hingga akhirnya Kita tiba di Curug Ciarjuna tercinta. Btw, Saya mulai mengerti kenapa curug ini dinamakan Curug Ciarjuna, soalnya orang yang datang kesini lewat Jalur Jahanam dan ditemani hujan lebat seperti Saya sangat layak untuk di sebut sebagai Arjuna yang mencari cinta (aduh apaan sih, gak perlu banget hal gini diceritain).

Oke, untuk fisiknya sendiri Curug Ciarjuna ini terdapat tiga curug, tapi Kita anggaplah curug yang paling besar itu adalah si Arjuna nya dan yang lainnya adalah para pengawalnya (Arjuna kok butuh pengawal sih?). Nah, Curug Ciarjuna ini memiliki tinggi sekitar hhmm....mungkin 80 meter lah (dibawah Curug Sanghyang Taraje), dan memiliki debit air yang besar. Di dasar curug, airnya tidak terlalu dalam dan bisa dipakai untuk bermain air, tapi tetaplah berhati-hati karena daerah ini rawan longsor.

Oke, waktu itu di Curug Ciarjuna cuma hanya ada Saya dan anak buah Saya, tapi menjelang saat-saat Kita akan pulang, mulai banyak berdatangan pengunjung lain (Mereka semua adalah pengunjung tipe alayers curug dan bukanlah curugers pro). Setelah Saya puas mendokumentasikan curug ini, Saya pun bersiap pulang dan siap untuk kembali melewati Jalur Jahanam. Nah, pas ditengah perlajanan pulang, Saya sempatkan dulu untuk mengunjungi Curug Leuweung Panjang (anak Curug Ciherang), dan cerita tentang curug tersebut, akan diceritakan di artikel selanjutnya. Okelah, mungkin hanya itu saja cerita yang dapat Saya sampaikan, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena artikel ini kebanyakan hanya berisi tentang cerita saat Saya melewati Jalur Jahanam doang, hahahahaha.

Piknik WTF Squad Episode 20
Curug Ciarjuna, Pamulihan, Garut
Sabtu, 28 Oktober 2017
Skuad: Gustian dan Rizal
Nilai: 9/10
Follow Instagram WTF Squad: @curugdigarut

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Curug Ciarjuna, Pamulihan, Garut"

Post a Comment